Jumat, 10 April 2015

HADITS-HADITS YANG BERKAITAN DENGAN LARANGAN SHOLAT DI MASJID YANGA ADA KUBURANNYA

LARANGAN SHOLAT DI MASJID YANG ADA KUBURANNYA

Disusun oleh : Abu Muhammad Ma'ruf al - Bimawi

Allah Azza wa Jalla Berfirman:
(قل إن كنتم تحبّون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم، والله غفور رحيم)
“Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah sunnah dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran:31).
Imam Ibnu Katsir, sewaktu menafsirkan ayat ini berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”. Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“...Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” [Al-Hasyr: 7]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“ما بقي شيء يقرب من الجنة ويباعد من النار إلا وقد بين لكم”
“Tidak ada (lagi) yang tertinggal dari (ucapan/perbuatan) yang bisa mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan (kamu) dari neraka, kecuali semua itu telah dijelaskan kepadamu”. Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun (yang diutus oleh Allah Azza wa Jalla) sebelumku, kecuali wajib baginya untuk menyampaikan kepada umatnya (semua) kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari (semua) keburukan yang diketahuinya”, (HSR Muslim).

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ ».
Artinya: “Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda: “Bumi sleuruhnya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Abu Martsad Al Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا
“Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya” (HR. Muslim no. 972).
Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ جُنْدَبٌ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ « ...وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ ».

Artinya: “Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lima hari sebelum kematian beliau bersabda: “…Dan sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan-kuburan para Nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid, ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku telah melarang kalian akan hal itu.” (H.R. Muslim )

Ummu Salamah pernah menceritakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang ia lihat di negeri Habaysah yang disebut Mariyah. Ia menceritakan pada beliau apa yang ia lihat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ
“Mereka adalah kaum yang jika hamba atau orang sholeh mati di tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Lantas mereka membuat gambar-gambar (orang sholeh) tersebut. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah” (HR. Bukhari no. 434).
عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ».
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah memerangi kaum Yahudi yang telah menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid“, ( H.R. BUKHARI )

أعنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالاَ لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ ، فَقَالَ وَهْوَ كَذَلِكَ « لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ » . يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا .
Artinya: “Bahwa Aisyah dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Ketika sakit yang diderita Rasulullah bertambah parah, beliau sering meletakkan kain yang beliau miliki di atas wajahnya, jika merasa sesak nafasnya akibat itu, beliau membukanya dari wajahnya, lalu dalam keadaan demikian beliau bersabda: “Laknat Allah atas kaum Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” Beliau memperingatkan dari apa yang telah mereka perbuat.” ( H.R. BUKHARI )



عَنْ أَبِى عُبَيْدَةَ قَالَ آخِرُ مَا تَكَلَّمَ بِهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « ...وَاعْلَمُوا أَنَّ شِرَارَ النَّاسِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ».
Artinya: “Abu ‘Ubaidah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling terakhir beliau ucapkan adalah: “Keluarkanlah kaum Yahudi dari bumi Hijaz dan kaum Najran dari Jazirah Arab dan ketauhilah bahwa seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” (H.R. Imam Ahmad)


Kamis, 10 April 2014

Dalil-Dalil Keharaman Mut'ah Dan Seputar Masalah-Masalah Di Dalamnya

Oleh : Al-Akh Dodi ElHasyimi -Hafizhahullah-

BUKTI-BUKTI YURIDIS MENGENAI KEHARAMAN NIKAH MUT’AH YANG TIDAK BISA TERBANTAHKAN DENGAN DALIL/HUJJAH MANAPUN :
I. FIRMAN ALLAH SWT :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) [المؤمنون/5-7

5. dan orang-orang yang MENJAGA KEMALUANNYA,
6. KECUALI TERHADAP ISTERI-ISTERI MEREKA ATAU BUDAK YANG MEREKA MILIKI; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa MENCARI YANG DI BALIK ITU MAKA MEREKA ITULAH ORANG-ORANG YANG MELAMPAUI BATAS.

Dari Ayat-Ayat diatas dapat diketahui bahwa dalam masalah ISTIMTA’ (BERSENANG–SENANG) YANG SAH ITU HANYA DAPAT DILAKUKAN MELALUI ISTRI-ISTRI DAN BUDAK PEREMPUAN SAJA, maka posisi mut’ah secara normatif Syar’i tidak bisa terhitung secara sah sebagai istri atau budak perempuan, karena terbukti dalam ikatan mut’ah tidak ada istilah talaq, hak nafkah dan warisan, bahkan wanita-wanita dalam nikah mut’ah itu hanya berstatus sebagai wanita-wanita sewaan saja. Bisa dilibuktikan disini :

وروى الطوسي في كتاب الإستبصار ما نصه: (إن أبا جعفر قال: المتعة ليست من الأربع، لأنها لا تطلق ولا تورث ولا ترث، وإنما هي مستأجرة

“At Thusi meriwayatkan dari kitab Al Istibshor : Sesungguhnya Abu Ja’far berkata : Mut’ah tidak terbatas phanya untuk 4 wanita, karena wanita yg dimutah tidak dicerai, tidak menerima warisan dan tidak mewariskan. Sesungguhnya dia adalah WANITA SEWAAN.”

Juga dalam riwayat dalam Al-Kafi (Terdapat juga dalam Al-Istibshor dan At-Tahdzib) :

فقد روى الكليني في الفروع من الكافي والطوسي في كتابيه الإستبصار والتهذيب ما نصه: (عن زرارة عن أبي عبد الله عليه السلام قال: ذكرت له المتعة، أهي من الأربع؟ فقال: تزوج منهن ألفاً فإنهن مستأجرات

“Dari Zuroroh dari Abu Abdillah as, dia berkata : Aku berkata padanya mengenai mutah : Apakah terbatas dengan 4 wanita ? beliau menjawab : Kawinlah dengan 1000 wanita dari mereka (para wanita), karena sesungguhnya mereka adalah WANITA-WANITA SEWAAN.”

II. HADITS :

صحيح مسلم - ج 7 / ص 192
فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

Rasulullah SAW bersabda : “Wahai para manusia, sesungguhnya pada mulanya aku mengizinkan kalian mengambil kesenangan dengan wanita-wanita dan sesungguhnya Allah telah MENGHARAMKAN HAL ITU SAMPAI HARI KIAMAT, maka siapa saja yang disampingnya memiliki sesuatu dari mereka maka lepaskanlah jalannya, dan janganlah kamu semua mengambil sesuatupun dari apa yang kamu datang kepada mereka.” [HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Ahmad dan HR. Ibnu Abi Syaibah].

Dari hadis diatas kita dapat mengetahui bahwa pernikahan mutah, yang sebelumnya  pernah diperbolehkan bagi orang yang posisi kebutuhannya mendesak (dhorurot), ternyata pada klimaksnya adalah DINYATAKAN KEHARAMANNYA OLEH ALLAH SWT MELALUI SABDA RASULULLAH SAW YANG BERUPA NASKH MUABBAD (PENGHAPUSAN HUKUM UNTUK SELAMA–LAMANYA) INI.

KESIMPULAN 1 :

DENGAN 2 DALIL INI SAJA, MAKA CUKUP BAGI ORANG YANG BERIMAN, BERAKAL, MENDAMBAKAN KETENANGAN BATHIN, KESUCIAN FARJI SERTA KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN AKHIRAT UNTUK MENINGGALKAN KESYUBHATAN MENGENAI NIKAH MUT’AH INI, KARENA 2 HUJJAH INI TIDAK AKAN BISA DIGOYAHKAN OLEH DALIL MANAPUN JUGA, YANG BERMAKSUD UNTUK MELEGALKAN KEMBALI NIKAT MUT’AH.

Namun demikian kami akan sedikit menambahi hadits-hadits yang melarang nikah mut’ah ini sesuai dengan masanya. Yang pertama :

صحيح مسلم - ج 7 / ص 201
عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ 

Dari Ali RA. : “Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang pernikahan mut’ah dan daging-daging himar yang dipelihara pada zaman Khoibar.” (HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Bukhori dan HR. Ahmad).

Yang kedua :

مسند أحمد - ج 33 / ص 317
عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ عَامَ أَوْطَاسٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا

Salamah bin Al Akwa’ berkata : “Rasulullah SAW member keringanan pada kami dalam masalah mut’ah wanita-wanita pada tahun Authos selama 3 hari, kemudian beliau melarangnya.” (HR. Ahmad)

Yang ketiga :

مسند أحمد - ج 30 / ص 352
 فَقَالَ رَبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَنْهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ

"...berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW pada waktu haji wada’  melarang nikah mut’ah.” (HR. Ahmad, juga terdapat dalam HR. Abu Dawud).

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang lain, bahkan ada yang meriwayatkan pelarangannya pada masa-masa selain diatas, yaitu pada perang Umrotul Qodho’, seperti riwayat hadis di bawah ini  :

شرح النووي على مسلم - ج 9 / ص 180
وروى عن الحسن البصري أنها ما حلت قط الا في عمرة القضاء

Serta pada saat perang Tabuk :

شرح النووي على مسلم - ج 9 / ص 180
 وذكر غير مسلم عن على أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عنها في غزوة تبوك من رواية إسحاق بن راشد عن الزهري عن عبد الله بن محمد بن علي عن أبيه عن علي

Jadi urutan pelarangan mut’ah menurut riwayat-riwayat yang telah kami tulisan di atas adalah sbb:
  1. Hari khoibar
  2. Umrotul Qodho’
  3. Hari Fath/Authos
  4. Perang Tabuk
  5. Haji wada’
  • Keterangan : Alasan Rasulullah SAW mengumumkan naskh muabbad ketika haji wada’, (posisi beliau adalah berdiri diantara Rukun dan pintu) adalah sebagaimana analisis yang disampaikan dalam Tafsir Qurthubi :
تفسير القرطبي - ج 5 / ص 132
لاجتماع الناس حتى يسمعه من لم يكن سمعه، فأكد ذلك حتى لا تبقى شبهة لأحد يدعي تحليلها؛ ولأن أهل مكة كانوا يستعملونها كثيرا

“Karena disitu adalah tempat berkumpulnya manusia, sehingga orang yang belum mendengarnya akan bisa mendengarnya. Maka menjadi kokoh pelarangan mut’ah itu, sehingga tiada kesyubhatan bagi seseorang yang mendakwa akan kehalalannya, dan dikarenakan penduduk Mekkah pada waktu itu banyak sekali yang telah melakukan mut’ah.”

KESIMPULAN 2 :

DARI BERBAGAI DATA RIWAYAT HADIS, DITETAPKAN TERJADI SEJUMLAH REVISI TERHADAP LEGALITAS NIKAH MUT’AH, DIMANA SEBELUM PERANG KHOIBAR PERNAH DIPERBOLEHKAN, KEMUDIAN DIHARAMKAN KETIKA HARI TERJADINYA PERANG KHOIBAR - 7 H / 629 M-. SETELAH ITU KETIKA HARI FATH MAKKAH -8 H / 630 M- (‘AM AUTHOS KARENA KEDUANYA ADA KETERKAITAN) DIPERBOLEHKAN LAGI NAMUN HANYA 3 HARI, KEMUDIAN NIKAH MUT’AH DINYATAKAN HARAM UNTUK SELAMANYA PADA WAKTU HAJI WADA’.
  • Keterangan : Dapat dilihat dalam kitab Hasyiah I’anatuth Tholibin :
حاشية إعانة الطالبين - ج 4 / ص 164
 أن نكاح المتعة كان مباحا ثم نسخ يوم خيبر ثم أبيح يوم الفتح ثم نسخ في أيام الفتح واستمر تحريمه إلى يوم القيامة وكان فيه خلاف في الصدر الاول ثم ارتفع وأجمعوا على تحريمه

“Sesungguhnya nikah mut’ah diperbolehkan kemudian di nasakh pada hari Khoibar kemudian diperbolehkan pada hari Fath lalu di nasakh lagi pada hari-hari Fath dan berlangsung keharamannya hingga hari kiamat. Maka terjadilah perbedaan (hukum) pada awal (Islam) kemudian dihapuslah (hukumnya) dan para Shahabat IJMA’ (sepakat) atas keharamannya.”

DAN PERLU DIINGAT BAHWA PEMBOLEHAN NIKAH MUT’AH ITU HANYA DIKARENAKAN OLEH FAKTOR SITUASI YANG MENDESAK (DHORUROT) PADA SAAT ITU, YAITU PADA WAKTU PEPERANGAN (JIHAD FI SABILILLAH), DALAM RICUH SUASANA YANG GENTING, TIDAK ADA ISTRI YANG MENYERTAI, DITAMBAH DENGAN PANASNYA SUHU CUACA DAERAH, SERTA KONDISI LIBIDO PARA MUJAHIDIN YANG TIDAK BISA DIBENDUNG. JADI DALAM HISTORITAS HADITS-HADITS, RASULULLAH SAW TIDAK PERNAH SEKALIPUN MEMBERI KELONGGARAN ATAS NIKAH MUT’AH KEPADA MEREKA YANG SEDANG BERDOMISILI TETAP (MUQIM) DI DALAM RUMAH.

Kemudian mengenai berapa kali jumlah revisi nikah mut’ah dan sejauh mana dhorurot pembolehan mut’ah ini dapat kita ketahui dalam keterangan serta hadis di bawah ini :

تفسير القرطبي - ج 5 / ص 130-131
واختلف العلماء كم مرة أبيحت ونسخت؛ ففي صحيح مسلم عن عبدالله قال: كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس لنا نساء؛ فقلنا: ألا نستخصي؟ فنهانا عن ذلك، ثم رخص لنا أن ننكح المرأة بالثوب إلى أجل. قال أبو حاتم البستي في صحيحه: قولهم للنبي صلى الله عليه وسلم "ألا نستخصي" دليل على أن المتعة كانت محظورة قبل أن أبيح لهم الاستمتاع، ولو لم تكن محظوره لم يكن لسؤالهم عن هذا معنى، ثم رخص لهم في الغزو أن ينكحوا المرأة بالثوب إلى أجل ثم نهى عنها عام خيبر، ثم أذن فيها عام الفتح، ثم حرمها بعد ثلاث، فهي محرمة إلى يوم القيامة. وقال ابن العربي: وأما متعة النساء فهي من غرائب الشريعة؛ لأنها أبيحت في صدر الإسلام ثم حرمت يوم خيبر، ثم أبيحت في غزوة أوطاس، ثم حرمت بعد ذلك واستقر الأمر على التحريم، وليس لها أخت في الشريعة إلا مسألة القبلة، لأن النسخ طرأ عليها مرتين ثم استقرت بعد ذلك. وقال غيره ممن جمع طرق الأحاديث فيها: إنها تقتضي التحليل والتحريم سبع مرات

Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa kali mutah ini diperbolehkan dan di nasakh hukumnya. Maka dalam riwayat Imam Muslim yang diambil dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata : “Kami pernah berperana bersama Rasulullah SAW sedang ketika itu tidak ada wanita pada kami.” Maka kami bertanya : “Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ?” Maka Rasulullah SAW melarang kita untuk melakukannya , lalu beliau memberikan rukhshoh (dispensasi) kepada kita untuk menikahi wanita untuk sementara waktu dengan mahar pakaian.” Dalam karya shohihnya Imam Abu Hatim Al-Bustiyyi menorehkan analisa pada pertanyaan yg diajukan sahabat kepada Nabi SAW : “Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ?” adalah sebagai dalil bahwa mut’ah telah di larang (diharamkan) sebelum istimta’ (bersenang–senang) itu diperbolehkan bagi mereka. Karena seandainya tidak dilarang maka mereka tidak menanyakan mengenai pengebirian ini., maka kemudian diberikan dispensasi bagi mereka pada waktu peperangan untuk menikahi perempuan dengan menggunakan mahar pakaian dengan jangka waktu, lalu beliau melarang pernikahan (mut’ah) tadi pada waktu tahun Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada tahun Fath, lalu diharamkan lagi setelah berlalu 3 hari setelahnya, maka pelarangan ini adalah berlaku hingga hari kiamat. (dari referensi hadis ini maka Imam Abu Hatim berkesimpulan bahwa kalkulasi jumlah perubahan hokum mut’ah mencapai 5 kali). Ibnu Al-Arobi memberikan statemen : “Konstitusi hukum memut’ah wanita adalah termasuk syariat yang langka. Karena ketetapan hukumnya pernah diperbolehkan pada awal masa ke-Islaman kemudian diharamkan pada hari Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada perang Authos (Hari Fath), lalu setelah itu diharomkan untuk selamanya. Tidak pernah ada dalam fase hukum syariat (mengenai pengulangan naskh dan manshukhnya) yang menyamainya kecuali dalam masalah (menghadap) kiblat, karena penasakhan hukum menghadap kiblat diperbarui 2 kali kemudian setelah itu dilangsungkan penetapannya. Sedangkan hasil penelusuran para pengumpul riwayat-riwayat Hadits menyatakan adanya penghalalan dan pengharaman sebanyak 7 kali.

تفسير القرطبي - ج 5 / ص 131
وقال عمرو عن الحسن: ما حلت المتعة قط إلا ثلاثا في عمرة القضاء ما حلت قبلها ولا بعدها

Sedang Amr bin Maimun dari Al Hasan Bashri : Mut’ah tidak pernah dihalalkan sama sekali kecuali 3 kali dalam Umrotul Qodho’, tidak halal sebelum maupun sesudahnya.

شرح النووي على مسلم - ج 9 / ص 180
وقد ذكر في حديث بن أبي عمر أنها كانت رخصة في أول الاسلام لمن اضطر اليها كالميتة ونحوها
 
MENGENAI PENDAPAT IBNU ABBAS :

حاشية إعانة الطالبين - ج 4 / ص 164
وما نقل عن ابن عباس من جوازها رجع عنه فقد قال بعضهم والله ما فارق ابن عباس الدنيا حتى رجع إلى قول الصحابة في تحريم المتعة. ونقل عنه أنه قام خطيبا يوم عرفة وقال أيها الناس إن المتعة حرام كالميتة والدم والخنزير
الدر المنثور - ج 3 / ص 81
وأخرج ابن المنذر والطبراني والبيهقي من طريق سعيد بن جبير قال : قلت لابن عباس : ماذا صنعت ، ذهب الركاب بفتياك؟ وقالت فيه الشعراء؟! قال : وما قالوا؟! قلت : قالوا
أقول للشيخ لما طال مجلسه ... يا صاح هل لك في فتيا ابن عباس
هل لك رخصة الأطراف آنسة ... تكون مثواك حتى مصدر الناس
فقال إنا لله وإنا إليه راجعون ، لا والله ما بهذا أفتيت ، ولا هذا أردت ، ولا أحللتها إلا للمضطر ، ولا أحللت منها إلا ما أحل الله من الميتة والدم ولحم الخنزير
الدر المنثور - ج 3 / ص 81
وأخرج عبد الرزاق عن خالد بن المهاجر قال : أرخص ابن عباس للناس في المتعة فقال له ابن عمرة الأنصاري : ما هذا يا ابن عباس . . . ؟! فقال ابن عباس : فعلت مع إمام المتقين فقال ابن أبي عمرة : اللهم غفرا . ! إنما كانت المتعة رخصة كالضرورة إلى الميتة والدم ولحم الخنزير ، ثم أحكم الله الدين بعد
الدر المنثور - ج 3 / ص 80
وأخرج النحاس عن علي بن أبي طالب أنه قال لابن عباس : إنك رجل تائه « إن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن المتعة

TERNYATA BELIAU (IBNU ABBAS) TELAH MEREVISI ATAS PENDAPATNYA TENTANG KEBOLEHAN MUT’AH……

MENGENAI QIROAH IBNU ABBAS DAN IBNU MAS’UD :

شرح النووي على مسلم - ج 9 / ص 179
وتعلقوا بقوله تعالى فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن وفي قراءة بن مسعود فما استمتعتم به منهن إلى أجل وقراءة بن مسعود هذه شاذة لا يحتج بها قرآنا ولا خبرا ولا يلزم العمل بها
تفسير القرطبي - ج 5 / ص 130
 وقرأ ابن عباس وأبي وابن جبير "فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى فأتوهن أجورهن "ثم نهى عنها النبي صلى الله عليه وسلم
الحاوى الكبير ـ الماوردى - دار الفكر - ج 9 / ص 838
وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى : فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ [ النِّسَاءِ : 24 ] فَمِنْ وَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا : أَنَّ عَلِيًّا وَابْنَ مَسْعُودٍ رَوَيَا أَنَّهَا نُسِخَتْ بِالطَّلَاقِ وَالْعِدَّةِ وَالْمِيرَاثِ . وَالثَّانِي : أَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى الِاسْتِمْتَاعِ بِهِنَّ فِي النِّكَاحِ ، وَقَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى يَعْنِي بِهِ الْمَهْرَ دُونَ الْعَقْدِ

TERNYATA QIRO’AH IBNU MAS’UD ADALAH QIRO’AH SYADZ YG TIDAK BISA DIJADIKAN HUJJAH SEBAGAI QUR’AN DAN KHOBAR (HADIS) DAN TIDAK BOLEH MENGAMALKANNYA….!!!! SEDANG QIRO’AH IBNU ABBAS DAN IBNU JUBAIR TERNYATA SUDAH DILARANG OLEH RASULULLAH SAW DAN DINASAKH…..!!!

TAMBAHAN AYAT YANG MENASAKH SURAT ANNISA’ 24 :

الدر المنثور - ج 3 / ص 80
وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس من طريق عطاء عن ابن عباس في قوله { فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة } قال : نسختها { يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن } [ الطلاق : 1 ] .{ والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء } [ البقرة : 228 ].{ واللائي يئسن من المحيض من نسائكم إن ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر } [ الطلاق : 4 ]
وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس والبيهقي عن سعيد بن المسيب قال : نسخت آية الميراث المتعة
وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر والبيهقي عن ابن مسعود قال : المتعة منسوخة ، نسخها الطلاق ، والصدقة ، والعدة ، والميراث
وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر عن علي قال : نسخ رمضان كل صوم ، ونسخت الزكاة كل صدقة ، ونسخ المتعة الطلاق والعدة والميراث ، ونسخت الضحية كل ذبيحة
وأخرج عبد الرزاق وأبو داود في ناسخه وابن جرير عن الحكم . أنه سئل عن هذه الآية أمنسوخة؟ قال : لا . وقال عليّ : لولا أن عمر نهى عن المتعة ما زنا إلا شقي
تفسير القرطبي - ج 5 / ص 130
 وقال سعيد بن المسيب: نسختها آية الميراث؛ إذ كانت المتعة لا ميراث فيها. وقالت عائشة والقاسم بن محمد: تحريمها ونسخها في القرآن؛ وذلك في قوله تعالى: {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ} وليست المتعة نكاحا ولا ملك يمين. وروى الدارقطني عن علي بن أبي طالب قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة، قال: وإنما كانت لمن لم يجد، فلما نزل النكاح والطلاق والعدة والميراث بين الزوج والمرأة نسخت. وروى عن علي رضى الله عنه أنه قال: نسخ صوم رمضان كل صوم، ونسخت الزكاة كل صدقة، ونسخ الطلاق والعدة والميراث المتعة، ونسخت الأضحية كل ذبح. وعن ابن مسعود قال: المتعة منسوخة نسخها الطلاق والعدة والميراث

SIMAK PERCAKAPAN BERIKUT :

حاشية إعانة الطالبين - ج 4 / ص 164
وقد وقعت مناظرة بين القاضي يحيى بن أكثم وأمير المؤمنين المأمون فإن المأمون نادى بإباحة المتعة، فدخل يحيى بن أكثم وهو متغير بسبب ذلك وجلس عنده فقال له المأمون: ما لي أراك متغيرا ؟ قال لما حدث في الاسلام. قال وما حدث ؟ قال النداء بتحليل الزنا. قال المتعة زنا ؟ قال نعم المتعة زنا قال ومن أين لك هذا ؟ قال من كتاب الله وسنة رسوله. أما الكتاب فقد قال الله تعالى: * (قد أفلح المؤمنون) * إلى قوله * (والذين هم لفروجهم حافظون، إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين، فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون) * يا أمير المؤمنين زوجة المتعة ملك اليمين ؟ قال: لا قال: فهي الزوجة التي عند الله ترث وتورث وتلحق الولد ولها شرائطها ؟ قال: لا. قال: فقد صار متجاوزا هذين من العادين، وأما السنة فقد روى الزهري بسند إلى على بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال: أمرني رسول الله (ص) أن أنادي بالنهي عن المتعة وتحريمها بعد أن كان أمر بها فالتفت المأمون للحاضرين وقال أتحفظون هذا من حديث الزهري قالوا نعم. فقال المأمون أستغفر الله نادوا بتحريم المتعة

Terjadi percakapan antara Al Qodhi Yahya bin Aktsam dan Amirul mukminin Al Makmun, dimana Al Makmun mengumumkan tentang kebolehan Mut’ah, maka masuklah Yahya bin Aktsam dalam keadaan berubah (wajahnya karena tidak senang..pen) disebabkan hal itu, dan duduklah beliau disampingnya. Maka berkatalah Al Makmun : Tidak pernah aku melihatmu berubah (tidak senang/marah) seperti itu ? beliau menjawab : Belum pernah terjadi dalam Islam !!! Al Makmun bertanya : Apakah yang belum pernah terjadi (dalam Islam) ?? Beliau menjawab : Mengumumkan kehalalan berzina. Al Makmun bertanya : Mut’ah zina ?? Beliau menjawab : Ya Betul Mut’ah adalah zina. Al Makmun bertanya lagi : Darimana kamu bisa berpendapat seperti itu ?? Beliau menjawab : Dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun dalil dari kitabullah adalah, Allah Ta’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ [المؤمنون/1-7]

“1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, 3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, 4. dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. 7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.”

Kemudian beliau bertanya : Ya Amirul Mukminin…apakah istri mut’ah itu milkul yamin (budak) ?? Al Makmun menjawab : "Tidak." Lalu beliau bertanya lagi : Apakah mereka itu istri-istri yang menurut Allah mewariskan dan dapat menerima warisan, serta seorang anak dapat diikutkan pada mereka dan mereka memenuhi syarat-syaratnya ?? Al Makmun menjawab : "Tidak." Beliau berkata : maka sesungguhnya sesuatu yang telah melampui 2 perkara ini (istri dan budak..pen) adalah termasuk ‘Aduun (orang-orang yang telah melampaui batas). Adapun hujjah dari sunnah adalah, sesungguhnya Az Zuhri telah meriwayatkan dengan sanad sampai kepada Ali bin Abi Tholib Ra, sesungguhnya beliau berkata :


أمرني رسول الله (ص) أن أنادي بالنهي عن المتعة وتحريمها بعد أن كان أمر بها
 

“Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk mengumumkan pelarangan mut’ah dan pengharamannya setelah diperbolehkan melakukannya.”

Maka Al Makmun menghadap kepada para hadhirin seraya berkata apakah kalian semua menghafal ini dari hadis Az Zuhri, mereka berkata : Ya.. maka Al Makmun berkata : Astaghfirullah…mereka semua telah mengumumkan dengan keharaman mut’ah….!!!


KELICIKAN SYIAH DALAM BERHUJJAH :
MEMUTILASI DALIL
1. Para Rofidhoh berkata : "Ibnu Qoyyim dalam "Zaadul Ma'ad", juz 1 hal. 213. menulis : Dari Ayyub berkata : "Urwah berkata kepada Ibnu Abbas :'Apakah engkau tidak takut pada Allah dengan membolehkan mut'ah ?'. Ibnu Abbas menjawab :'Tanyakan pada ibumu sendiri, hai Urwah'. Kemudian Urwah mengatakan :'Abubakar dan Umar tidak melakukannya'. Ibnu Abbas menjawab :'Demi Allah, aku tidak melihat kamu menjadi lebih baik sampai Allah mengazab kamu. Kami menyampaikan hadits Rasulullah SAW kepada kamu dan kamu menyampaikan hadits Abubakar dan Umar.” 

Padahal lafadz lengkap percakapan ini :

زاد المعاد - ج 2 / ص 190
وَقَالَ عَبْدُ الرّازِقِ حَدّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيّوبَ قَالَ قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبّاسٍ أَلَا تَتّقِي اللّهَ تُرَخّصُ فِي الْمُتْعَةِ ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : سَلْ أُمّك يَا عُرَيّةَ . فَقَالَ عُرْوَةُ : أُمّا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ ، فَلَمْ يَفْعَلَا ، فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : وَاَللّهِ مَا أَرَاكُمْ مُنْتَهِينَ حَتّى يُعَذّبَكُمْ اللّهُ أُحَدّثُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَتُحَدّثُونَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ؟ فَقَالَ عُرْوَةُ : لَهُمَا أَعْلَمُ بِسُنّةِ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَتْبَعُ لَهَا مِنْك

Juga dapat dilihat disini :

الحاوى الكبير ـ الماوردى - دار الفكر - ج 9 / ص 836
وَنَاظَرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ عَلَيْهَا مُنَاظَرَةً مَشْهُورَةً ، وَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ : أَهْلَكْتَ نَفْسَكَ ، قَالَ : وَمَا هُوَ يَا عُرْوَةُ ، قَالَ : تُفْتِي بِإِبَاحَةِ الْمُتْعَةِ ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ يَنْهَيَانِ عَنْهَا ، فَقَالَ : عَجِبْتُ مِنْكَ ، أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} وَتُخْبِرُنِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ، فَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ : إِنَّهُمَا أَعْلَمُ بِالسُّنَّةِ مِنْكَ فَسَكَتَ

Jadi percakapan diatas masih berlanjut dg jawaban Urwah : ”Sesungguhnya mereka berdua ( Abu Bakar dan Umar )  lebih mengetahui Sunnah (Nabi SAW) daripada dirimu. Maka sanggahan ini membuat Ibnu Abbas terdiam.”

Mengenai Atsar :

وأخرج عبد الرزاق وأبو داود في ناسخه وابن جرير عن الحكم أنه سئل عن هذه الآية أمنسوخة ؟ قال لا وقال علي لولا أن عمر نهى عن المتعة ما زنا إلا شقي

Abdurrazaq, Abu Daud dalam kitab Nasikh dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hakim ketika ia ditanya “apakah ayat ini dimansukh”?. Ia berkata “tidak”, dan Ali berkata “kalau Umar tidak melarang mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka”.

Para Rofidhoh berkata : Atsar ini disampaikan oleh orang-orang yang tsiqah sehingga tidak ada alasan untuk menolak dan menentangnya, sehingga tidak diragukan lagi kalau Imam Ali alaihis salam telah menghalalkan mut’ah. Hakam bin Utaibah Al Kindi disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib juz 1 hal 232 sebagai orang yang tsiqat dan tsabit.

Padahal perkataan Ibnu Hajar dalam kitab tsb masih ada kelanjutannya (kami tampilkan selengkapnya) :

تقريب التهذيب - ج 1 / ص 232
 الحكم بن عتيبة بالمثناة ثم الموحدة مصغرا أبو محمد الكندي الكوفي ثقة ثبت فقيه إلا أنه ربما دلس من الخامسة

Lihat pula komentar Jalaluddin As-Suyuthi dalam Asmaa’ al-Mudallisin juz 1 hal. 44 :

أسماء المدلسين - ج 1 / ص 44
الحكم بن عتيبة ذكره غير واحد يدلس

Juga bisa di cek pendapat Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqaat juz 4 hal. 144 :

الثقات لابن حبان - ج 4 / ص 144
الحكم بن عتيبة بن النهاس مولى امرأة من كندة من بنى عدى كوفى كنيته أبو محمد وقد قيل أبو عبد الله يروى عن أبي جحيفة وزيد بن أرقم روى عنه منصور وشعبة ولد سنة خمسين في ولاية معاوية ومات سنة خمس عشرة ومائة وقد قيل سنة ثلاث عشرة ومائة وكان يدلس

Jadi riwayat yang disandarkan kepada Ali bn Abi Tholib RA diatas statusnya dho'if dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, dengan alasan Al Hakam melakukan tadlis dan sanadnya terputus, sebab Al Hakam tidak pernah bertemu dengan Ali bin Abi Tholib RA (Al Hakam lahir tahun 50 H pada masa pemerintahan Sayyidina Muawiyah RA sedang  Sayyidina Ali meninggal pada tahun 40 H).

HUKUMAN DAN KONSEKUENSI BAGI PELAKU MUT’AH :

الحاوى الكبير ـ الماوردى - دار الفكر - ج 9 / ص 840
 فَصْلٌ : فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ تَحْرِيمِ الْمُتْعَةِ الآثار المترتبة على نكاح المتعة ، فَلَا حَدَّ فِيهَا لِمَكَانِ الشُّبْهَةِ ، وَيُعَزَّرَانِ أَدَبًا إِنْ عَلِمَا بِالتَّحْرِيمِ ، وَلَهَا مَهْرُ مِثْلِهَا بِالْإِصَابَةِ دُونَ الْمُسَمَّى وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ ، وَإِنْ جَاءَتْ بِوَلَدٍ لَحِقَ بِالْوَطْءِ : لِأَنَّهَا صَارَتْ بِإِصَابَةِ الشُّبْهَةِ فِرَاشًا ، وَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِغَيْرِ طَلَاقٍ : لِأَنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُمَا نِكَاحٌ يُلْزِمُ ، وَيَثْبُتُ بِهَذِهِ الْإِصَابَةِ تَحْرِيمُ الْمُصَاهَرَةِ

DALIL IJMA’ SANGAT BANYAK, DIANTARANYA SBB :

Fatwa Qodhi ‘Iyadh :


شرح النووي على مسلم - ج 9 / ص 181
قال القاضي واتفق العلماء على أن هذه المتعة كانت نكاحا إلى أجل لا ميراث فيها وفراقها يحصل بانقضاء الأجل من غير طلاق ووقع الاجماع بعد ذلك على تحريمها من جميع العلماء الا الروافض وكان بن عباس رضي الله عنه يقول بإباحتها وروى عنه أنه رجع عنه قال وأجمعوا على أنه متى وقع نكاح المتعة الآن حكم ببطلانه سواء كان قبل الدخول أو بعده الا ما سبق عن زفر واختلف أصحاب مالك هل يحد الواطئ فيه ومذهبنا أنه لا يحد لشبهة العقد وشبهة الخلاف

“Ulama telah sepakat bahwa sesungguhnya mutah adalah nikah yang dibatasi waktu, tidak ada hubungan warisan dan berpisahnya terjadi dengan habisnya masa yang ditentukan, dengan tanpa adanya talak. Dan setelah itu terjadilah ijma’ atas keharamannya dari seluruh ulama’ kecuali para Rofidhoh….dst.”

Fatwa Al Mazari :


شرح النووي على مسلم - ج 9 / ص 179
قال المازرى ثبت أن نكاح المتعة كان جائزا في أول الاسلام ثم ثبت بالأحاديث الصحيحة المذكورة هنا أنه نسخ وانعقد الاجماع على تحريمه ولم يخالف فيه الا طائفة من المستبدعة وتعلقوا بالأحاديث الواردة في ذلك وقد ذكرنا أنها منسوخة فلا دلالة لهم فيها


“Telah ditetapkan bahwa sesungguhnya mutah pernah diperbolehkan di masa awal Islam, kemudian berdasarkan Hadits-Hadits Shohih ditetapkan bahwa sesungguhnya hukum kebolehannya telah direvisi dan terbentuklah konsesus (ijma’) atas keharamannya. Tidak ada pertentangan di dalamnya kecuali dari kelompok yang membuat bid’ah. Landasan mereka berasal dari Hadits-Hadits yg datang dengan pengakuan terhadap kebolehan mutah, sementara telah kami tuturkan bahwa sesungguhnya Hadits-Hadits itu telah direvisi, dengan demikian tiada dalil lagi untuk mereka mengenai masalah ini.”

Fatwa Ibnu Mundzir :


نيل الأوطار - ج 6 / ص 194
وقال ابن المنذر جاء عن الأوائل الرخصة فيها ولا أعلم اليوم أحدا يحيزها الابعض الرافضة ولامعنى لقول يخالف كتاب الله وسنة رسوله


“Datangnya rukshoh (dispensasi) tentang mut’ah dari para pemuka-pemuka di masa awal dahulu. Dan tidak aku ketahui sekarang ini satu-pun yang membolehkan mut’ah, kecuali dari sebagian rofidhoh (pembelot/ disaster). Tidak ada ma’na (nilai substansif yang dapat diperhitungkan) bagi pendapat yang menyalahi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Fatwa Al Khothobi :


نيل الأوطار - ج 6 / ص 194 

وقال الخطابي تحريم المتعة كالإجماع الا عن بعض الشيعة ولا يصح على قاعدتهم في الرجوع في المخالفات إلى على صح عن علي أنها نسخت

“Keharaman nikah mut’ah seperti ijma’ kecuali dari sebagian Syi’ah (yakni Syiah Imamiyah, karena Syiah Zaidiyah, dan lain-lain juga mengharamkan mut’ah…pen). Tidaklah sah kaidah mereka yang merujuk pada pertentangan Ali Ra, sebab telah sah dinyatakan dari beliau bahwa sesungguhnya mut’ah telah direvisi.”

Dan masih sangat banyak lagi.

Sebenarnya kami ingin menulis masalah-masalah mutah ini lebih panjang lagi, tetapi karena keterbatasan waktu kami cukupkan sampai disini...Afwan... Wallahul Muwaffiq.

______________________________________

Seorang Rafidhiy busuk bernama Malik Al-Asytar ketika membantah artikel ini mengatakan :

SUROH AL-MUKMINUN BUKANNYE TURUN DI MEKKAH (MAKIYYAH) SEMENTARE AN'NISA' 24 TURUN DI MADINAH (MADANIYYAH)...PEGIMANE BISE AYAT NYANG TURUN DULUAN MEMANSUKH AYAT NYANG TURUN BELAKANGAN ? XIXI

Al-Akh Dody ElHasyimi menjawab :

Perlu diketahui Surat Al Mu’minun 1-7 itu bukan menasakh Surat An Nisa’ ayat 24, akan tetapi menasakh Nikah Mut’ah dan menunjukkan keharaman mut’ah…sebagaimana nash ibarat yang Ane bawakan dari Tafsir Al-Qurthubi diatas, coba ente perhatikan dengan teliti :

وقالت عائشة والقاسم بن محمد: تحريمها ونسخها في القرآن؛ وذلك في قوله تعالى: {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ} وليست المتعة نكاحا ولا ملك يمين.
 

“Aisyah RA dan Al Qosim bin Muhammad berkata : Keharaman mut’ah dan penasakhan mut’ah diterangkan di dalam Al Quran, yaitu firman Allah :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
 

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

Mengenai Surat Al Mukminun 1-7 ini juga dapat dilihat pada tulisan ane diatas, pada percakapan antara Al Qodhi Yahya bin Aktsam dan Amirul mukminin Al Makmun.

Sedangkan AYAT-AYAT YANG MENASAKH SURAT AN NISA’ ( sebagaimana Nash-Nash ibarat yg ane tulis diatas ) adalah :

1. وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس من طريق عطاء عن ابن عباس في قوله { فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة } قال : نسختها { يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن } [ الطلاق : 1 ] .{ والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء } [ البقرة : 228 ].{ واللائي يئسن من المحيض من نسائكم إن ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر } [ الطلاق : 4 ]
 

“Abu Dawud di dalam kitabnya yg menerangkan naskh mansukh dan Ibnu Mundzir serta Nahhas dari jalur Atho’ dari Ibnu Abbas meriwayatkan mengenai firman Allah SWT :
فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة
Beliau berkata : “Ayat ini dinasakh dengan ayat :
{ يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن } [ الطلاق : 1 ]
Dan ayat :
{ والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء } [ البقرة : 228 ]
Serta ayat :
{ واللائي يئسن من المحيض من نسائكم إن ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر } [ الطلاق : 4 ]

2. وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس والبيهقي عن سعيد بن المسيب قال : نسخت آية الميراث المتعة 

Abu Dawud di dalam kitabnya yg menerangkan naskh mansukh, Ibnu Mundzir dan Nahhas serta Al Baihaqi dari Sa’id bin Al Musayyab meriwayatkan bahwa beliau berkata : “Ayat tentang warisan menasakh nikah mut’ah.”

3. وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر والبيهقي عن ابن مسعود قال : المتعة منسوخة ، نسخها الطلاق ، والصدقة ، والعدة ، والميراث
Abdur Razaq dan Ibnu Mundzir serta Al Baihaqi dari Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa beliau berkata : “Mut’ah itu telah dimansukh, yang menasakhnya adalah ayat yang menerangkan masalah talaq, shodaqoh, ‘iddah serta Warisan.”

4. وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر عن علي قال : نسخ رمضان كل صوم ، ونسخت الزكاة كل صدقة ، ونسخ المتعة الطلاق والعدة والميراث ، ونسخت الضحية كل ذبيحة
Abdur Razaq dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Sy Ali Ra, beliau berkata : “Puasa Romadhon menasakh semua puasa, zakat menasakh shodaqoh, talaq,’iddah dan warisan menasakh mut’ah, serta udhhiyah (korban) menasakh semua sembelihan.”

5. تفسير القرطبي - ج 5 / ص 130
وقرأ ابن عباس وأبي وابن جبير "فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى فأتوهن أجورهن "ثم نهى عنها النبي صلى الله عليه وسلم. وقال سعيد بن المسيب: نسختها آية الميراث؛ إذ كانت المتعة لا ميراث فيها
Ibnu abbas Ra , Ubayy dan Ibnu Jubair membaca :
جبير "فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى فأتوهن أجورهن "
Kemudian Rasulullah SAW melarang bacaan demikian. Dan Sa’id bin Al Musayyab berkata : “Ayat ini dinasakh dengan ayat warisan, karena di dalam mut’ah tidak ada hukum waris mewarisi.”

6. تفسير القرطبي - (ج 5 / ص 130)
وروى عن علي رضى الله عنه أنه قال: نسخ صوم رمضان كل صوم، ونسخت الزكاة كل صدقة، ونسخ الطلاق والعدة والميراث المتعة، ونسخت الأضحية كل ذبح. وعن ابن مسعود قال: المتعة منسوخة نسخها الطلاق والعدة والميراث.
Diriwayatkan dari Sy Ali RA bahwa sesungguhnya beliau berkata : “Puasa Romadhon menasakh semua puasa, zakat menasakh shodaqoh, talaq,’iddah dan warisan menasakh mut’ah, serta udhhiyah (korban) menasakh semua sembelihan.” Dan dari Ibnu Mas’ud Ra, beliau berkata : “Mut’ah itu telah dimansukh, yang menasakhnya adalah ayat yang menerangkan masalah talaq, ‘iddah serta Warisan.”

KESIMPULAN : SURAT AL MUKMINUN 1-7 ADALAH MENASAKH (MENGHAPUS) HUKUM KEBOLEHAN MUT’AH DAN MENUNJUKKAN KEHARAMAN MUT’AH (bukan menasakh surat An Nisa’ 24 , karena menurut pendapat yg shohih dan dalil2 yg kuat, surat An Nisa’ 24 inipun sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan nikah mut’ah, tetapi yg diterangkan adalah nikah yg Shohihah -Insya Allah klo ada waktu dan kesempatan ane akan bahas masalah ini...-), SEDANGKAN AYAT2 YG MENASAKH SURAT AN NISA’ 24 ADALAH AYAT2 YG MENERANGKAN TALAQ, ‘IDDAH, SHODAQOH, WARISAN (ket : banyak sekali ayat2 tentang masalah2 ini disebutkan dalam surat Al Baqoroh, An Nisa’ dan Ath Tholaq)
Bila ente memiliki kemampuan membaca nash2 berbahasa arab dan memiliki kefahaman yang baik, Insya Allah akan mudah dan jelas untuk memahami nash2 yang ane bawakan diatas...


Malik Al-Asytar : ........................ (terdiam)

sumber : http://jaser-leonheart.blogspot.com/2012/06/dalil-dalil-keharaman-mutah-dan-seputar.html

Sabtu, 02 November 2013

Hadits-Hadits Palsu Tentang Keutamaan Puasa dan Amalan-Amalan di Bulan Muharram

Oleh:  
Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc
 

Hadits Pertama:
Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rozin bin Jami’ Al-Mishri Abu Abdillah Al-Mu’addal, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Habib, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sallaam Ath-Thowil, dari Hamzah Az-Zayyaat, dari Laits bin Abi Saliim, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَانَ لَهُ كَفَّارَةَ سَنَتَيْنِ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلاَثُوْنَ يَوْمًا

“Barangsiapa berpuasa pada hari Arofah maka puasa itu akan menghapuskan (dosa-dosa) selama dua tahun. Dan barangsiapa yang berpuasa satu hari di bulan Muharram maka baginya dari setiap hari (bagaikan berpuasa) 30 hari”. (Dikeluarkan oleh Ath-Thobaroni dalam Al-Mu’jam Ash-Shoghir II/164 no.963).
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’).
Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah: “Ini adalah hadits PALSU (maudhu’).
Di dalam sanadnya ada dua orang perowi pendusta (pemalsu hadits), yaitu:
1. Sallam Ath-Thowil dan dia adalah pendusta.
Ibnu Khorrosy berkata tentangnya: “Dia seorang pendusta.”
Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perowi yang tsiqoh (terpercaya/kredibel), dan sepertinya dia yang sengaja memalsukannya.”
Al-Hakim berkata tentangnya pula: “Dia meriwayatkan hadits-Hadits palsu.”
2. Al-Haitsam bin Habib diklaim oleh imam Adz-Dzahabi sebagi orang yang meriwayatkan hadits bathil”. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah I/596 no.412, dan Dho’if At-Targhib wat Tarhib I/154 no. 615).
Hadits Kedua:
Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Yusuf Al-Qodhi dan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la bin Hammad An-Narsi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar bin Al-Ward, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ubaidillah bin Abi Yazid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ لِيَوْمٍ فَضْلٌ عَلَى يَوْمٍ فِي الصِّيَامِ إِلاَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وَيَوْمُ عَاشُوْرَاءَ

“Tidak ada satu haripun yang memiliki keutamaan melebihi hari-hari yang lainnya dalam hal berpuasa kecuali bulan Ramadhan dan hari ‘Asyuro’”.
(Diriwayatkan oleh Ath-Thobaroni di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir XI/127 no.11253).
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF JIDDAN (Sangat Lemah).
Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Abdul Jabbar bin Al-Ward yang dikatakan oleh Imam Al-Bukhori: “Dia menyelisihi pada sebagian hadits-haditsnya” dan berkata Ibnu Hibban tentangnya: “Dia sering salah dan keliru (wahm).”
Syaikh Al-Albani rahimahulla berkata: “Hadits ini MUNGKAR.” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah I/453no. 285, dan Dho’if At-Targhib wa At-Tarhib I/155 no. 616).
Hadits Ketiga:
Imam Ath-Thobroni rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul warits bin Ibrahim Abu Ubaidah Al-Askari, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ali bin Abu Tholib Al-Bazzaz, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al-Haishom bin Asy-Syuddakh, dar Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqomah, dari Abdullah (bin Mas’ud), dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِيْ سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa yang melapangkan (nafkah) kepada keluarganya pada hari ‘Asyura, niscaya ia akan senantiasa dalam kelapangan (rizkinya) selama setahun itu”. (Diriwayatkan oleh Ath-Thobrani X/77 no.10007, dan Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman VIII/312 no.3635)
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah).
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Hadits ini TIDAK SHOHIH.”
Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini DHO’IF (Lemah). (Lihat tahqiq beliau terhadap Misykat Al-Mashobih, I/434 no.1926).
Di dalam sanadnya ada seorang perowi yang majhul (Tidak dikenal jati dirinya), yaitu: Al-Haishom bin Asy-Syuddakh.
Al-‘Uqoili berkata: “Al-Haishom adalah perowi yang majhul, dan hadits ini tidak mahfuzh.”
Ibnu Hibban berkata: “Al-Haishom meriwayatkan hal-hal yang aneh dan berbahaya, tidak boleh berhujjah dengannya.”
Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnul Qoyyim dalam Al-Manar Al-Munif Fi Ash-Shohih wa Adh-Dho’if, I/111 no.223, dan Asy-Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, I/98 no.37).
Hadits Keempat:
Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Maudhu’aat , bab Puasa di akhir dan awal tahun (baru Hijriyah) berkata: “Telah memberitahukan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Abu Ali Al-Hasan bin Ahmad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Al-Fawaris, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Umar bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Ayub, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syadzan, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah Al-Harwi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Quthb bin Wahb, dari Ibnu Juraij, dari Atho’, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kafarat/tertutup dosanya selama 50 tahun.” (Dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at II/566, Ay-Syaukani dalam Al-Fawa-id Al-Majmu’ah I/96 no.31, dan selainnya).
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’).
Di dalam sanadnya terdapat dua perowi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu Al-Harwi Al-juwaibari dan Wahb.
Ibnul Jauzi berkata tentang keduanya, yaitu Al-Harwi atau dikenal juga dengan Al-Juwaibari, dan Wahb bahwa keduanya adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. (Lihat Al-Mawdhu’at II/566)
Asy-Syaukani berkata tentang hadits ini: “Di dalam hadits ini ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.” (lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah I/96 no.31).
Jika demikian derajat haditsnya, maka tidak boleh bagi siapapun dari umat Islam yang mengkhususkan puasa dan amalan-amalan ibadah lainnya seperti doa menyambut tahun baru hijriyah, dzikir berjama’ah, menghidupkan malamnya dengan qiyamul lail, bersedekah, membaca Al-Qur’an, mengadakan pengajian dan selainnya pada awal dan akhir tahun Hijriyah, karena haditsnya jelas-jelas sangat lemah atau bahkan PALSU, bukan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. Cukuplah bagi kita beribadah kepada Allah dengan amalan-amalan yang dilandasi dengan hadits-hadits yang jelas dan pasti keshohihannya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Hadits Kelima:
KEUTAMAAN PUASA SEMBILAN HARI PERTAMA BULAN MUHARROM

قال ابن الجوزي : أنبأنا ظفر بن على الهمداني أنبأنا أبو رجاء حمد بن أحمد التاجر حدثنا أبو نعيم أحمد بن عبدالله الحافظ حدثنا محمد بن عبدالرحمن بن الفضل حدثنا أبو زيد خالد بن النضر حدثنا إسماعيل بن عباد حدثنا سفيان بن حبيب عن موسى الطويل عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ صَامَ تِسْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ أَوَّلِ الْمُحَرَّمِ بَنَى الله ُلَهُ قُبَّةً فِي الْهَوَى مِيْلاً فِيْ مِيْلٍ لَهَا أَرْبَعَةُ أَبْوَابٍ”.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Telah memberitahukan kepada kami Zhafr bin Ali Al-Hamadani, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Abu Roja’ Hamd bin Ahmad At-Tajir, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Hafizh, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman bin Al-Fadhl, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Khalid bin An-Nadhr, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abbad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Habib, dari Musa Ath-Thowil, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Sembilan hari dari hari pertama bulan Muharram, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah kubah di udara seluas satu mil dikali satu mil. Kubah tersebut memiliki empat pintu.”
(Dikeluarkan oleh Ibnul jauzi dalam kitab Al-Maudhu’aat , bab Shaumu tis’ati ayyaamin min awwali al-muharrom II/199).
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’).
Di dalam sanadnya ada seorang perowi yang Musa Ath-Thowil, dia seorang pendusta (pemalsu hadits).
Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Musa Ath-Thowil meriwayatkan hadits-hadits palsu dari Anas (bin Malik radhiyallahu anhu, pent). Tidak diperbolehkan mencatat hadits-haditsnya kecuali untuk mengingkarinya.”
Ibnu ‘Adi berkata tentangnya: “dia meriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu hadits-hadits mungkar, dan dia juga seorang perowi yang majhul (tidak dikenal jati dirinya).” (Lihat Mizan Al-I’tidal, karya imam Adz-Dzahabi no.8888).
Hadits Keenam:
KEUTAMAAN AMALAN-AMALAN DI HARI ASYURA’ (10 MUHARROM)
Sebagian orang awam yang menganut madzhab Ahlus Sunnah melakukan hal-hal yang membuat marah orang-orang Syi’ah Rafidhoh, yaitu dengan membuat hadits-hadits palsu seputar keutamaan hari Asyura’ (hari kesepuluh bulan Muharrom), karena orang-orang Syi’ah Rofidhoh menganggap atau bahkan meyakini bahwa hari Asyura’ adalah hari keburukan dan berkabung serta mengekspresikan kesedihan atas terbunuhnya Husain bin Ali bin Abu Tholib di Karbala’. Kami para penganut akidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berlepas diri dari kedua kelompok (kubu) yang saling berlawanan tersebut dalam menyikapi hari Asyura’.
Telah ada riwayat yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan puasa hari Asyura’ (tanggal 10 Muharrom), yaitu akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu, akan tetapi mereka (orang-orang awam/jahil) belum merasa puas dengan keutamaan seperti itu, sehingga mereka memberanikan diri untuk menambah-nambahi dan memperpanjang keutamaan-keutamaan berbagai amalan pada hari Asyura’ secara dusta dan mengatas-namakan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Diantara hadits yang mereka palsukan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam ialah sebagaimana berikut:

قال ابن الجوزي : حدثنا أبو الفضل محمد بن ناصر من لفظه وكتابه مرتين قال أنبأنا أحمد بن الحسين بن قريش أنبأنا أبو طالب محمد بن على ابن الفتح العشارى، وقرأت على أبى القاسم الحريري عن أبى طالب العشارى حدثنا أبو بكر أحمد بن منصور البرسرى حدثنا أبو بكر أحمد بن سليمان النجاد حدثنا إبراهيم الحربى حدثنا سريح بن النعمان حدثنا ابن أبى الزناد عن أبيه عن الاعرج عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
” إن الله عز وجل افترض على بنى إسرائيل صوم يوم في السنة يوم عاشوراء وهو اليوم العاشر من المحرم، فصوموه ووسعوا على أهليكم فيه، فإنه من وسع على أهله من ماله يوم عاشوراء وسع عليه سائر سنته، فصوموه فإنه اليوم الذى تاب الله فيه على آدم، وهو اليوم الذى رفع الله فيه إدريس مكانا عليا، وهو اليوم الذى نجى فيه إبراهيم من النار، وهو اليوم الذى أخرج فيه نوحا من السفينة، وهو اليوم الذى أنزل الله فيه التوراة على موسى، وفيه فدى الله إسماعيل من الذبح، وهو اليوم الذى أخرج الله يوسف من السجن، وهو اليوم الذى رد الله على يعقوب بصره، وهو اليوم الذى كشف الله فيه عن أيوب البلاء، وهو اليوم الذى أخرج الله فيه يونس من بطن الحوت، وهو اليوم الذى فلق الله فيه البحر لبنى إسرائيل، وهو اليوم الذى غفر الله لمحمد ذنبه ما تقدم وما تأخر، وفى هذا اليوم عبر موسى البحر، وفى هذا اليوم أنزل الله تعالى التوبة على قوم يونس، فمن صام هذا اليوم كانت له كفارة أربعين سنة، وأول يوم خلق الله من الدنيا يوم عاشوراء، وأول مطر نزل من السماء يوم عاشوراء، وأول رحمة نزلت يوم عاشوراء، فمن صام يوم عاشوراء فكأنما صام الدهر كله، وهو صوم الانبياء، ومن أحيا ليلة عاشوراء فكأنما عبدالله تعالى مثل عبادة أهل السموات السبع، ومن صلى أربع ركعات يقرأ في كل ركعة الحمد مرة وخمسين مرة قل هو الله أحد غفر الله خمسين عاما ماض وخمسين عاما مستقبل وبنى له في الملا الاعلى ألف ألف منبر من نور، ومن سقى شربة من ماء فكأنما لم يعص الله طرفة عين، ومن أشبع أهل بيت مساكين يوم عاشوراء، مر على الصراط كالبرق الخاطف. ومن تصدق بصدقة يوم عاشوراء فكأنما لم يرد سائلا قط، ومن اغتسل يوم عاشوراء لم يمرض مرضا إلا مرض الموت، ومن اكتحل يوم عاشوراء لم ترمد عينيه تلك السنة كلها، ومن أمر يده على رأس يتيم فكأنما بر يتامى ولد آدم كلهم، ومن صام يوم عاشوراء أعطى ثواب عشرة ألف ملك، ومن صام يوم عاشوراء أعطى ثواب ألف حاج ومعتمر، ومن صام يوم عاشوراء أعطى ثواب ألف شهيد، ومن صام يوم عاشوراء كتب له أجر سبع سموات وفين خلق الله السموات و الارضين والجبال والبحار، وخلق العرش يوم عاشوراء، وخلق القلم يوم عاشوراء، وخلق اللوج يوم عاشوراء، وخلق جبريل يوم عاشوراء، ورفع عيسى يوم عاشوراء، وأعطى سليمان الملك يوم عاشوراء، ويوم القيامة يوم عاشوراء، ومن عاد مريضا يوم عاشوراء فكأنما عاد مرضى ولد آدم كلهم “.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Fadhl Muhammad bin Nashir dari lafazh (lisan) dan kitab beliau sebanyak dua kali, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Ahmad bin Al-Husain bin Quraisy, ia berkata; telah memberitahukan kepada kami Abu Tholib Muhammad bin Ali bin Al-Fath Al-‘Usyari, dan aku telah membacakan (hadits-hadits) di hadapan Abu Al-Qosim Al-Hariri, dari Abu Tholib Al-‘Usyari, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Manshur Al-Barsari, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Sulaiman An-Najjad, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Harbi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Suraih bin An-Nu’man, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Az-Zinad, dari ayahnya, dari Al-A’roj, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla telah mewajibkan kepada Bani Israil puasa satu hari dalam setahun, hari ‘Asyura’, yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharrom. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpuasa ‘Asyura dan lapangkanlah nafkah kalian terhadap keluarga kalian pada hari itu, karena sesungguhnya barangsiapa melapangkan nafkah kepada keluarganya dari harta bendanya pada hari ‘Asyura, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.
Lakukanlah puasa Asyura’, karena pada hari itu Allah menerima taubat nabi Adam, mengangkat nabi Idris pada tempat/kedudukan yang tinggi, menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api, mengeluarkan nabi Nuh dari kapalnya, menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa, memberikan tebusan bagi nabi Ismail dari penyembelihan, mengeluarkan nabi Yusuf dari penjara, mengembalikan mata penglihatan nabi Ya’qub, membebaskan nabi Ayub dari bencana (penyakit), mengeluarkan nabi Yunus dari perut ikan paus/hiu, membelah lautan menjadi daratan bagi bani Israil, mengampuni dosa-dosa nabi Muhammad yang telah lalu maupun yang akan datang. Pada hari (Asyura’) itu juga nabi musa menyeberangi lautan, Allah menurunkan taubat kepada kaum nabi Yunus. Maka barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, ia akan memperoleh penghapusan dosa selama 40 (empat puluh) tahun.
Hari Asyura’ adalah hari pertama yang Allah ciptakan dari (hari-hari) dunia. Pada hari Asyura’, Allah menurunkan hujan dari langit untuk pertama kalinya, dan pada hari itu juga pertama kali rahmat Allah turun (ke dunia).
Barangsiapa berpuasa Asyura’, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun. Puasa Asyura’ adalah puasanya para nabi. Dan barangsiapa menghidupkan malam Asyura’ maka seakan-akan ia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya para penghuni tujuh langit. Barangsiapa sholat empat rokaat dan pada setiap rokaat ia membaca alhamdu (al-Fatihah) sekali dan Qul Huwallah (al-Ikhlas) 50 (lima puluh) kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama 50 (lima puluh) tahun yang lalu dan 50 (lima puluh) tahun yang akan datang, dan Allah akan membuatkan baginya satu juta mimbar terbuat dari cahaya di hadapan para malaikat yang mulia.
Barangsiapa memberi seteguk air minum (pada hari Asyura), maka seakan-akan ia tidak pernah bermaksiat kepada Allah sekejap pun. Barangsiapa mengenyangkan keluarga orang-orang miskin pada hari Asyura’, maka ia akan berjalan di atas ash-shiroth (jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam menuju surga, pent) secepat kilat.
Barangsiapa bersedekah dengan suatu sedekah pada hari Asyura’, maka seakan-akan ia tidak pernah menolak seorang pun yang meminta-minta. Barangsiapa mandi pada hari Asyura’, maka ia tidak akan mengalami sakit apapun kecuali kematian. Barangsiapa memakai celak pada hari Asyura’ maka kedua matanya tidak akan mengalami sakit sepanjang tahun itu. Barangsiapa tangannya mengusap kepala anak yatim, maka seakan-akan ia ia telah berbuat baik kepada semua anak yatim.
Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diberi pahala 10.000 (sepuluh ribu) malaikat. Dan barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, ia akan diberi pahala 1000 (seribu) orang yang menunaikan haji dan umroh. Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diberi pahala 1000 (seribu) orang yang mati syahid. Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’ , maka ia diberi pahala tujuh lapis langit.
Pada hari Asyura’ Allah menciptakan (tujuh lapis) langit dan bumi, gunung-gunung dan lautan, ‘Arsy, al-Qolam (pena), Lauhul Mahfuzh, dan malaikat Jibril. Pada hari Asyura’ Allah mengangkat nabi Isa, dan memberikan kerajaan kepada nabi Sulaiman. Hari Kiamat juga terjadi pada hari Asyura’. Dan barangsiapa menjenguk orang sakit pada hari Asyura’, maka seakan-akan ia telah menjenguk semua orang sakit dari keturunan nabi Adam.”
(Dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’aat, bab fi dzikri Asyura’ II/200-201).
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’).
Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Ibnu Abi Az-Zinad.
Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia tidak ada apa-apanya, dan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Dan nama Abu Az-Zinad adalah Abdullah bin Dzakwan. Sedangkan nama anaknya adalah Abdurrahman. Dahulu (Abdurrahman) Ibnu Mahdi tidak meriwayatkan hadits darinya.”
Imam Ahmad berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang mudhthorib haditsnya (perowi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat atau berbeda-beda, pent).”
Abu Hatim Ar-Rozi berkata tentangnya: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah. Barangkali sebagian ahlul ahwa (atau ahli bid’ah) telah memasukkannya di dalam haditsnya.”
Al-Hafizh Ibnu hajar Al-Asqolani berkata tentangnya: “Shoduq (), hafalannya mengalami perubahan ketika ia datang ke kota Baghdad.” (Taqrib At-Tahdzib II/340 no.3861).
Beberapa Tanda Kepalsuan di dalam Hadits ini:
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kepalsuan hadits ini sudah sangat jelas dan tanpa diragukan lagi oleh setiap muslim yang berakal. Apalagi si pemalsu hadits ini tidak malu-malu lagi menyebutkan di dalamnya hal-hal yang mustahil, seperti perktaannya; “hari yang pertama kali Allah ciptakan adalah hari Asyura’ (hari kesepuluh).” Ini merupakan ketololan dan kelalaian dari si pemalsu hadits. Sebab hari Asyura’ (kesepuluh) tidaklah dinamakan demikian melainkan telah didahului dengan hari kesembilan. (Lihat kitab Al-Maudhu’aat II/201).
Di dalam hadits ini juga si pemalsu mengatakan, “Allah menciptakan Langit-langit dan bumi serta gunung-gunung pada hari Asyura’.” Padahal telah ada hadits shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menyelisihi perkataannya, yaitu sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah menciptakan tanah (bumi) pada hari Sabtu dan telah menciptakan gunung-gunung pada hari Ahad, dan Allah menciptakan pepohonan pada hari Senin…dst.” (SHOHIH. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah, karya Syaikh Al-Albani IV/449 no.1833).
Di dalam hadits palsu ini juga, terdapat penyelewengan dan perubahan dalam masalah ukuran-ukuran pahala yang tidak sesuai dengan kebaikan dan kemurahan Syariat Islam. Apakah pantas seseorang yang berpuasa satu hari lalu diberi pahala seperti halnya 1000 (seribu) orang yang haji dan umroh serta 1000 (seribu) orang yang mati syahid? Yang demikian ini bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam.
(Hadits-hadits ini diterjemahkan dari kitab Al-Maudhu’aat karya Ibnul jauzi dan kitab-kitab lainnya (Maktabah Syamilah) dan disusun oleh penulis pada hari Senin, 28 November 20011 di kediamannya, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah).
Bersambung…(insya Allah)

Artikel: Abufawaz.Wordpress.com publish kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

copas dari : http://moslemsunnah.wordpress.com

Berbagi

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More