Oleh : Abu Muhammad Ma'ruf Al-Bimawi
Jum'at/08/06/2012
Al-Muzanni menceritakan, " Aku menjenguk Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i Rahimahullah menjelang ajalnya. Aku katakan kepadanya " Wahai Abu 'Abdillah, semoga Allah merahmatimu. Berilah aku nasihat !" Beliau Berkata.
" Bertakwalah kepada Allah, gambarkanlah akhirat dalam hatimu, letakkan kematian di depan matamu, jangan lupa engkau akan berdiri dihadapan Allah subhanahuwata'ala, jadilah orang yang bergetar bila nama Allah disebut, jauhilah perkara yang diharamkan-Nya, tunaikanlah perintah-Nya, tetaplah bersama kebenaran dimana saja ia berada, jangan remehkan ni'mat Allah kepadamu meskipun sedikit namun terimalah dengan rasa syukur!, hendaklah sikap diammu merupakan renungan, perkataanmu merupakan dzikir, dan pandanganmu merupakan pelajaran! Maafkanlah orang yang mendzalimimu, sambunglah silaturahim yang orang putus darimu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, bersabarlah atas segala musibah dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari neraka dengan jalan takwa! ".
Aku berkata, " Berilah aku nasihat lainnya, wahai Abu Abdillah !, semoga Allah merahmatimu."
Beliau berkata,
" Hendaklah kebenaran menjadi lisanmu, memenuhi janji sebagai penopangmu, rahmat sebagai buahmu, syukur sebagai kesucianmu, kebenaran sebagai tetanggamu, keridhaan sebagai amanahmu,pemahaman sebagai sebagai ilmumu, harapan sebagai kesabaranmu, ketakutan sebagai hijabmu, kejujuran sebagai perkiraanmu, sedekah sebagai bentengmu, rasa malu sebagai penguasamu, kelembutan sebagai mentrimu, tawakkal sebagai perisaimu, dunia sebagai penjaramu, kemiskinan sebagai teman berbaringmu, kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai pencarianmu, Al-qur'an sebagai pembicaraanmu, dan Allah sebagai pengawas dirimu! barang siapa memiliki sifat ini, niscaya ia masuk kedalam syurga"
Ar-Rabi' bin Sulaiman berkata, " pada waktu Maghrib sebelum wafatnya Asy-Syafi'i, putra pamannya yang bernama Ya'kub bertanya kepadanya, " Apakah kami kami boleh turun untuk mengerjakan sholat?" Beliau balik bertanya, " Apakah kalian hendak duduk-duduk saja sambil menunggu nyawaku keluar?" Maka kamipun turun mengerjakan shalat. Usai shalat kami kerumahnya lalu berkata, " Kami telah melaksanakan shlat. Semoga Allah membuat keadaanmu menjadi lebih baik." Beliau menjawab, "Ya". Lalu beliau meminta diambilkan air, dan kala itu musimnya adalah musim dingin. Oleh karenanya anak pamannya bertanya kepadanya, " Apakah airnya perlu aku campurkan dengan air hangat?" Asy-Syafi'i Rahimahullah menjawab, " Tidak. Tapi dicapur dengan Zubb As-Safarjal."
Beliau wafat seiring berakhirnya waktu 'Isya pada hari kamis dan kami kembali dari mengantarkan jenazahnya pada malam jum'at. Kami melihat hilal bulan Sya'ban pada tahun 204 Hijriyah, dan beliu tutup usia 50 tahun lebih. Ada yang mengatkan usianya ketika wafat 54 tahun."
Wallahu a'lam
Dikutip dari kitab "Ash-Shabatu wa Ash-Shalihuna 'ala Firasyil Maut " Karya Syaikh Majdi Fathi As-Sayyid
Bagikan Artikel ini







1 komentar:
Posting Komentar
Komentar disini